AYOCUS.COM

JELAJAHI WISATA OLEH-OLEH KHAS SEMARANG DARI UMKM

Produk UMKM salah satu penunjang pariwisata oleh-oleh di semarang

HANYA PUNYA WAKTU SEHARI BUAT KELILING SINGAPORE BISA G YA ?

Ketika hanya ada sedikit waktu untuk menjelajahi Singapore, yuk di simak !

PESONA HATYAI KOTA DAMAI DI PERBATASAN THAILAND

Kota perbatasan yang menawan, Hatyai antara Malaysia dan Thailand

PANTAI UNIK DI MADURA - PANTAI LOMBANG

Pantai Penuh dengan Pohon Cemara nan Rindang, pantai Lombang - Madura

APA SAJA YANG HARUS DI PERSIAPKAN SAAT BACKPACKING

Enam hal yang harus kamu persiapkan saat backpackeran, apa saja yuk disimka

Sabtu, 10 Maret 2012

Stop! Jangan Cukur Habis Bulu Kemaluan Anda Karena Ternyata Bermanfaat




Bulu kemaluan merupakan satu sign atau tanda yang menerangkan bahwa telah datangnya kematangan (pubertas) pada seorang laki-laki atau perempuan. Hal ini dikarenakan adanya perubahan dan pertambahan hormon menjelang masa peralihan atau transisi dari remaja ke dewasa. Hadirnya rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan, sebenarnya bukan suatu masalah karena hal tersebut merupakan kodrat alamiah yang dialami oleh semua orang. Akan tetapi kadang-kadang untuk sebagian orang (khususnya wanita) hadirnya bulu di sekitar kemaluan membuat mereka tidak nyaman dan risih. Sehingga ada sebagian wanita yang berusaha untuk menghilangkan bulu kemaluannya dengan cara mencukur atau mengobatinya secara permanen, sehingga tidak bisa tumbuh lagi.Sebenarnya bukan tidak boleh mencukur atau membersihkan bulu kemaluan, apalagi dalam Agama Islam, Nabi mengajurkan kita untuk selalu menjaga kebersihan diri, salah satu nya adalah mencukur rambut kemaluan secara teratur. Akan tetapi menghilangkannya sama sekali juga tidak baik, kenapa? Karena hadirnya bulu atau rambut di sekitar kemaluan ternyata mempunyai banyak fungsi untuk kesehatan kita.Seperti halnya rambut yang mempunyai banyak manfaat untuk tubuh kita, maka demikian juga halnya bulu bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan kita. Adapun beberapa manfaat atau fungsi dari tumbuhnya bulu-bulu disekitar kemaluan kita diataranya:

  1. Memberikan kehangatan
  2. Sebagai penampakan dari proses kematangan seksual (pubertas)
  3. Mengurangi gesekan saat berhubungan intim
  4. Pelindung wilayah disaerah tempat tumbuhnya rambut kemaluan ini karena wilayah ini cukup sensitif (terutama vagina)
  5. Pengumpulan dari pengeluaran feromon (zat kimia yang mengatur perilaku seks)
Meski letak dari rambut kemaluan bisa dikatakan tersembunyi (private area) bukan berarti rambut di area kemaluan lepas dari perhatian seperti kita merawat rambut di daerah lainnya seperti rambut kepala atau bulu ketiak. Cowo terutama cewe, kebersihan dan kerapian rambut kemaluan harus dijaga sebaik mungkin melihat fungsi dari rambut kemaluan tadi. Tentunya caranya tidak boleh semaunya.Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merawat bulu atau rambut di kemaluan yakni ;
  • Tidak dianjurkan untuk mencabut atau mencukur dengan cara yang tidak tepat pada rambut kemaluan

     karena dengan mencabut atau mencukur rambut kemaluan bisa menimbulkan lubang kecil (luka iritasi) akibat perlakuan tersebut. Lubang atau luka kecil ini akan menjadi pintu masuk kuman atau jamur (terutama pada cewe yang mudah sekali mengalami lembab di vagina) yang nantinya bisa menyebabkan infeksi di kulit daerah intim Anda.

  • Bulu kemaluan yang terlalu lebat (tidak pernah dirapikan) juga dapat menjadi tempat tumbuhnya kutu, bakteri atau kuman, serta jamur

     yang pada akhirnya menimbulkan berbagai macam penyakit. Merapikan di sini artinya cukup memendekkan saja. Misalnya, dipendekkan sekira setengah sentimeter dengan menggunakan gunting, atau apabila Anda hendak mencukurnya bisa menggunakan busa sabun terlebih dahulu, serta menggunakan alat cukur khusus yang lembut sebelumnya sudah dicuci dahulu dengan sabun dan disiram dengan air panas. Setelah digunakan, alat cukur wajib dicuci kembali dan disimpan di tempat yang bersih dan kering. Jangan disimpan di tempat yang lembap, karena bisa ditumbuhi jamur dan bakteri. Selain itu, jangan menggunaan alat cukur secara bergantian.

  • Kesehatan bulu atau rambut di kamaluan (bulu pubis) juga sangat tergantung pada kondisi kesehatan kulit

    . Jika timbul keluhan gatal, nyeri, perih, kemerahan, sisik, bentol/bintil, atau perubahan kulit sekitarnya berarti kondisi kesehatan kulit sedang tidak baik. Hal ini akan berakibat pula pada kondisi bulu pubis. Sebaiknya jika timbul hal demikian segera konsultasikan kepada dokter spesialis kulit untuk penanganan lebih lanjut.Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa, bulu-bulu yang tumbuh di sekitar tubuh kita, ternyata bukan tidak memiliki fungsi dan manfaat, karena Tuhan sudah menetapkan untuk apa fungsi dari masing masing bulu atau rambut yang ada pada tubuh kita. Demikian juga halnya dengan rambut - rambut yang lain, tentunya bukan tidak memiliki fungsi dan manfaat.

Rambut bisa berfungsi sebagai mahkota atau untuk keindahan tubuh, selain juga memiliki fungsi-fungsi untuk kesehatan juga. Lantas, bagaimana dengan rambut-rambut yang tumbuh di bagian-bagian tubuh yang tersembunyi alias pribadi? Apakah juga memiliki fungsi khusus?

Kalau Anda perhatikan tubuh Anda, maka di setiap tempat yang 'rawan' dan perlu dilindungi akan ditumbuhi rambut/bulu. Misalnya kepala, yang perlu dijaga agar tak terbentur, pecah, dan sangat rawan di bagian ubun-ubunnya. Sehingga saat masih bayi, rambut paling tebal di bagian tersebut.
Kemudian pada sekitar mata juga ditumbuhi rambut, di bagian atas ada bulu mata agar debu, cairan, atau benda asing tak mudah singgah ke dalam mata.
Ketika belum menggunakan baju, kemungkinan besar seluruh tubuh ditumbuhi rambut yang lebih jarang dan di tempat rawan ditumbuhi rambut yang lebih lebat dan menutupi tempat tersebut. Dengan pertumbuhan manusia, perubahan jaman dan evolusi manusia, maka tersisa yang paling penting yang menjaga bagian-bagian rawan tersebut dengan rambut.
Nah, ilustrasi di atas mungkin bisa memberikan gambaran tentang pentingnya rambut-rambut 'tersembunyi', seperti rambut kemaluan dan rambut ketiak. Fungsi rambut yang menutupi bagian tubuh tersebut adalah untuk menjaga kelembabannya. Karena selain sensitif, pada bagian bawah organ tersebut tersimpan kelenjar yang sangat penting bagi tubuh.
Mungkin pada saat manusia masih belum mengenal pakaian, keberadaan bulu-bulu tersebut sangat dibutuhkan. Namun seiring dengan ditemukannya pakaian sebagai pelindung tubuh, maka fungsi rambut bisa terbantu oleh pakaian tersebut, sehingga tak menjadi masalah atau bahkan dianjurkan untuk memotong (memendekkan) rambut kemaluan ataupun mencabuti rambut di ketiak Anda, untuk alasan kebersihan maupun estetika.
Sebenarnya untuk soal jumlah, tempat tumbuhnya dan bentuk rambut merupakan ciri khas masing-masing manusia, yang tentunya berbeda satu sama lain. Selain sidik jari, banyaknya dan tempat tumbuhnya rambut juga bisa menunjukkan data orang tersebut. Rambut juga merupakan identifikasi dan daya tarik seksual tersendiri bagi pasangan Anda.




Kamis, 01 Maret 2012

MENGAPA RASULALLAH BERPOLIGAMI


Masalah poligami menjadi konflik berkepanjangan di Negara kita, baik dalam umat islam maupun umat di luar agama islam, itu di sebabkan karena sebagian individu umat islam maupun non islam yang tidak begitu memahami arti poligami yang sebenarnya. Sehingga kita sering mendengar bahwa poligami itu adalah sunah Nabi yang merupakan syariat islam. Di samping itu poligami juga menjadikan sasaran empuk bagi kaum musuh islam untuk menghujat ajaran-ajaran islam yang agung tersebut. Nabi Muhammad juga di anggap mempunyai kelainan seksual yang sering menuruti hawa nafsu. Maka menjadi kewajiban kita bersama untuk meluruskan hakikat yang sebenarnya agar keagungan kepribadian beliau tidak tercemari oleh isu – isu yang senantiasa di sebarkan oleh mereka yang benci terhadap umat islam.
Para pendeta di abad pertengahan mengatakan bahwa “Poligami adalah tatanan sosial yang pertama kali di ciptakan oleh Nabi Muhammad,SAW.” Anggapan tersebut adalah salah, karena secara historis bahwa umat - umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad,SAW dominan melakukan poligami atau beristri lebih dari satu.
Berikut adalah fakta - fakta yang menunjukkan bahwa poligami sudah menjadi tatanan sosial bagi bangsa - bangsa Arab sebelum Nabi Muhammad,SAW. :
Bangsa Ibrani telah melakukan poligami sejak zaman dahulu, sementara Taurat telah membolehkan poligami tanpa menyebutkan batasan jumlah wanita yang boleh dinikahi, yang kemudian batasan tersebut dapat di temukan di kitab Talmud. Dengan alasan Nabi Ya’qub hanya beristrikan empat wanita, golongan Robbaniyyunpun membatasi jumlah wanita yang boleh dinikahi menjadi empat orang wanita. Adapun orang – orang yahudi masih saja terus melakukan poligami sampai sekarang.
Bangsa Atena membolehkan bagi seorang laki-laki untuk menikahi para wanita dengan jumlah yang tidak terbatas, Adapun bangsa mesir kuno juga melakukan poligami pada masa Diodur Ash-Shaqliy, dan mereka di samping melakukan poligami juga melakukan hubungan biologis dengan budak - budak wanita.
Di dalam ajaran Zoroaster terdapat anjuran bagi bangsa Persia untuk melakukan poligami serta mengambil pula wanita – wanita selir dan piaraan, alasannya adalah bahwasanya bangsa yang selalu bertempur senantiasa membutuhkan pemuda - pemuda tangguh.
Sedangkan Orang- orang Nasrani, sebagian mereka telah melakukan poligami, seperti Raja Qastantin serta Putra Mahkotanya, bahkan Raja Falafius Valentin telah membuat suatu  undang - undang yang di dalamnya di sebutkan bahwa di bolehkan bagi masyarakat secara keseluruhan untuk melakukan poligami bagi yang mau. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan abad ke empat masehi. Isi undang – undang tersebut terus berlangsung hingga masa Gustine, dimana beliau melarang adanya praktik poligami, tetapi usaha Gustine tidak membawa hasil yang memuaskan, karena tidak ada yang tunduk pada pandangannya kecuali segelintir ahli fikir. Dan bangsa - bangsa lain juga memberlakukan system poligami.
Maka, tidaklah mengherankan jika bangsa Arab pada masa Jahiliyah telah melakukan poligami ini, dimana praktik ini dilakukan oleh mereka yang mempunyai kemampuan, atau mereka yang dituntut oleh situasi dan kondisi unuk melakukannya, atau Oleh mereka yang menganggap bahwa di balik perbuatan Poligami ini akan mendatangkan kebaikan.
Mundzir bin Harits bin Abu Jabalah Al Ghassani, seorang betrik serta tokoh gereja timur telah mengawini wanita dalam jumlah yang sangat banyak. Bila kita melihat lebih jauh bahwa Abdul Muthalib bin Hasyim mempunyai enam orang istri, Abu Sufyan mempunyai enam orang istri pula, dan Shafwan bin Umayyah memiliki istri dengan jumlah yang sama dengan Abu Muthalib dan Abu Sufyan.
Fakta – fakta yang kami paparkan di atas telah menepis semua tuduhan sebagian musuh Islam yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad,SAW adalah orang yang pertama kali membolehkan manusia untuk melakukan Poligami.
Di uraikan di atas bahwa Nabi Muhammad,SAW bukan orang yang pertama kali membolehkan poligami dan sebenarnya poligami itu di bolehkan oleh Nabi Muhammad,SAW di karenakan oleh sebab – sebab tertentu, sebenarnya Nabi Muhammad,SAW bukanlah seorang yang suka menuruti hawa Napsunya.
Hingga pada dekade belakangan ini, masih saja kita mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah adalah seorang yang senang menikah dan memperbanyak istri, karena beliau menemukan pada wanita kenikmatan bagi jasmaninya serta pemuas dahaganya, maka beliaupun menikahi wanita – wanita itu sebanyak mungkin karena Nabi Muhammad bin Abdullah suka menuruti hawa nafsunya. Tuduhan yang tidak beralasan ini sering kita dengar dari mulut kaum - kaum misionaris yang ingin memusuhi kebenaran. Jikalau mereka tidak pernah merasa bosan menyuarakan dan mempropagandakan kebatilan, maka kitapun seharusnya tidak akan pernah merasa bosan dan berputusasa untuk menyuarakan dan sekaligus menyebarkan kebenaran untuk membuktikan hal tersebut mari kita tinjau bersama dan sama – sama membuktikan bahwa Nabi Muhammad bukan type Orang yang suka menuruti hawa nafsunya:
Tinjauan Pertama
Rasulullah hidup bersama kaumnya di Negeri Makkah selama empat puluh tahun sebelum diangkat sebagai Rasul. Fase ini dalam kehidupan seseorang mencakup dunia anak – anak, masa remaja serta waktu pembentukan kematangan kepribadian menuju kedewasaan. Dan dalam kurun waktu tersebut Beliau termasuk menjadi suri tauladan terbaik dalam segi kedewasaan, menjadi kehormatan, kesucian, serta keutamaan akhlak yang mulia.
Tidak pernah terselip dalam hati Beliau suatu keinginan untuk melakukan perbuatan keji atau perzinaan, hingga diriwayatkan bahwasanya beliau tidak pernah menyentuh tangan wanita kecuali jika wanita tersebut adalah isterinya atau mahramnya maupun wanita budak belianya. Berikut ini adalah kisah tentang masamuda Rasulallah yang di kisahkan secara terang dan lugas.
“Tidak pernah terdetik di dalam hatiku untuk melakukan seperti apa yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah kecuali dua kali, dan pada setiap kali itu pula Allah menghalangiku dari apa yang aku inginkan. Kemudian tidak pernah terbesik dari hatiku untuk melakukan sebuah kejahatan hingga Allah memuliakanku dengan memilihku untuk mengemban risalah-Nya.
Tinjauan ke Tiga
Beliau adalah sosok yang sangat zuhud sehubungan dengan kesenangan hidup di dunia. Kezuhudan Rasul bukanlah karena tuntunan kehidupan yang sulit atupun karena kemiskinan. Beliau adalah sosok yang sengaja meninggalkan perkara – perkara yang mubah meskipun beliau mampu untuk mendapatkannya. Hal itu di lakukan untuk melatih jiwa serta sikap lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri.
Pada kesempatan ini, akan di paparkan sebagian fenomena kezuhudan Beliau :
            Pertama, beliau tidak pernah tergiur sedikitpun dengan harta yang sangat banyak dan melimpah, baik berupa harta rampasan yang di peroleh melalui peperangan maupun karena penyerahan diri oleh musuh, upeti, sedekah maupun hadia – hadiah.
            Kedua, Beliau tidak pernah memakan dua jenis makanan sekaligus, jika beliau memakan kurma maka beliau mencukupkannya dengan kurma itu saja. Beliau memakan apa yang telah di sediakan, tidak pernah menolak apa yang ada serta tidak pernah makan sambil bertelekan.
            Ketiga, demikian dengan pakaian, tempat tidur, serta prabotan rumah tangganya, akan tetapi dalam kesederhanaannya ini, beliau merupakan contoh tauladan yang terbaik dari segi kebersihan.
            Keempat, sikap zuhud tersebut merupakan ciri khas bagi orang – orang terdekatnya, lebih khusus bagi istri beliau serta putrinya sayyidah fathimah, agar mereka menjadi suri tauladan bagi para muslimah yang lain. Sifat qana’ah  ( merasa cukup ) beliau terhadap apa yang dimiliki, serta sikap zuhud ( tidak tergiur ) terhadap apa yang mungkin untuk di milikinya, telah jadikannya sebagai suri tauladan utama bagi umat islam.
            Tinjauaan yang ketiga.
            Rasulallah menikah dengan Sayyidah Khadijah sementara usia beliau lebih muda di banding dengan Khadijah. Pada saat itu Sayyidah Khadijah berumur lebih dari 40 tahun, sedangkan Nabi baru berumur 25 tahun, kehidupan rumah tangga bersama Sayyidah Khadijah sungguh sedemikian rukun, dan Beliau tidak pernah berfikir untuk menambah istri lagi sebagai madu bagi Khatijah, seperti banyak di lakukan oleh mayoritas kaumnya ataupun bangsa – bangsa Non-Arab. Sebab poligami di saat itu merupakan tatanan sosial yang berlaku serta sudah memasyarakat, dimana tidak ada batas bagi kaum laki – laki untuk mengawini kaum wanita sebanyak yang ia kehendaki sampai Sayyidah Khadijah mendahului Rosul menghadap Allah. Disini di buktikan bahwa Muhammad sangat setia kepada Khadijah sampai Khadijah Wafat.
            Tinjauan yang keempat.
            Sesungguhnya beliau memiliki kepribadian yang sangat tangguh, dimana Allah telah memelihara dari beliau dengan kepribadiannya itu baik sebelum maupun sesudah di anggkat menjadi Nabi. Syayidah Aisyah, salah seorang istri Rasulullah, memberikan kesaksiaannya, bahwasanya beliau tidak memiliki bandingan dalam hal kesetabilan indranya, ketepatan nuraninya serta penguasaan terhadap dorongan nafsunya. Sayyidah Aisyah menggambarkan semua itu dalam sepenggal kalimat yang singkat tapi padat. Beliau berkata : “ Sesungguhnya baliau adalah yang paling menguasai nafsunya di antara kamu” di sini di buktikan bahwa Muhammad adalah orang yang bisa menguasi Nafsunya.
            Tinjuan yang kelima.
            Tidak seorangpun yang dapat mengingkari bahwasanya beban risalah yang demikian besar telah menguras segala usaha Rasulallah, menghabiskan waktunya, serta menyibukkan hatinya dan menguasai akalnya serta semua daya upayanya. Beliau menerima kitabullah lalu menghafalkannya, kemudian membacakannya kepara sahabatnya. Apabila terjadi perselisihan dalam segi bacaan Al Qur’an, maka para sahabat mengembalikan persoalanya kepada Rasulullah. Beliau menetapkan peraturan bagi kaum muslimin, mensiasati urusan mereka, menerangkan persoalan – persoalan yang mereka hadapi, mengimami saat mereka shalat lima waktu, serta memutuskan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Beliau sangat banyak beribadah, serta melakukan puasa, memperpanjang shalat malam, serta menjauhkan diri dari tempat tidur agar dapat menghabiskan waktunya untuk melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak akibat kelamaan berdiri.
Kehidupan beliau di penuhi oleh peperangan, hampir perang satu belum tuntas beliau harus siap ke perang  yang berikutnya, semua itu di lakukan demi membela dan mempertahankan agama dan Negara. Sehingga membuat Nabi tidak sempat berfikiran untuk menikahi wanita sebanyak mungkin sebagai mana yang di lakukan oleh mereka yang kehausan wanita.
Kenapa Beliau tidak berpoligami sebelum di angkat sebagai Nabi, disaat kondisi beliau masih belum di bebani oleh tanggung jawab untuk mengemban risalah dan tugas – tugas untuk melakukan jihad serta belum menghadapi ribuan problema yang ada pada para pengikutnya, dimana beliau telah menganggap mereka sebagai anak – anaknya sendiri, dan merekapun merasakan kasih sayang dari seorang bapak yang sangat Mulia dan baik. Rasullah sama seperti Nabi – Nabi lain Makan, minum, menikah punya anak, sakit bisa pula marah.
Setelah penjelasan yang telah di paparkan di atas, merupakan kesalahan yang sangat fatal jika seseorang memberanikan dirinya untuk mencela kemuliaan Rasulullah yang tinggi, lalu mensifatinya sebagai seseoarang yang mabuk akan wanita, haus untuk mencari kepuasan pada lawan jenisnya, sehingga beliau memperbanyak istrinya. Demikianlah, di samping bahwasanya poligami yang di lakukan Rasulullah adalah sesuatu yang sangat di butuhkan oleh agama yang di embannya, serta memiliki substansi hukum yang sangat banyak.
Sekarang marilah kita memulai memasuki pembahasan ini dengan menyebutkan istri – istri Rasulullah, diiringi penjelasan tentang sebab – sebab yang melatar blakangi pernikahannya dengan setiap istrinya serta tujuan dari pada pernikahan itu, agar jelas kebenarannya.
1.            Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid.
            Sayyidah khadijah adalah seorang wanita yang memiliki garis keturunan yang terhormat serta kekayaan yang melimpah. Beliau sebelumnya pernah menikah dua kali dengan dua orang laki – laki dari bani Makhzum, kemudian ia di pinang oleh sebagian besar para pembesar Quraisy, namun semua lamaran itu di tolaknya, karena ia berkeyakinan bahwa para pembesar Quraisy yang melamarnya itu hanya mengiginkan harta kekayaannya saja.
Khadijah mengagumi sosok Muhammad yang jujur dan kebaikannya, kemudian khadijah mengutus saudara perempuannya atau seorang teman dekatnya untuk menemui Muhammad, mereka berkata kepada Muhammad “Apakah yang menjadi kendala anda untuk menikah, hai Muhammad..?” Beliaupun menjawab “ Aku tidak memiliki harta serta kecukupan untuk membiyayai suatu pernikahan”. Utusan Khadijahpun berkata “ Jika ada orang yang menanggung hal itu, lalu mengajak anda untuk menikahi seseorang yang berparas cantik dan menarik serta memiliki kekayaan di samping keturunan yang terhormat, maka apakah anda mau menerima tawarannya..? Muhammad berkata : Siapakah orang tersebut..? utusan Khadijah tersebutpun menjawab “dia adalah Khadijah binti Khuwailid.” Saat itu pula Rasulullah menyatakan dengan tegas akan persetujuan yang ditawarkannya dengan tawaran tersebut, sementara dia mengetahui bahwa Khadijah dulu pernah menikah dua kali dan memiliki usia lebih tua lima belas tahun atau lebih. dan  sempurnalah pernikahan mereka dan seketika lenyaplah perbedaan usia, melebur dalam kebahagiaan, kejujuran, kehidupan rumah tangga yang rukun serta dengan kegembiraan akan kehadiran anak – anak. Khadijah Radhiyallahu Anha bersama Rasulullah telah di karuniai : Qasim, Abdullah ( Keduanya di beri gelar At-Thahir dan At-Thayib), Zainab, Ummu Kaltsum, Fathimah serta Ruqayyah.
Rasulullah biasanya mengasinggkan diri, meninggalkan rumahnya pada malam - malam tertentu yang dilewatinya dengan merenung dan beribadah di gua Hira’. Beliau beribadah di gua Hira’ dalam bulan Ramadhan pada setiap tahunnya. Dimana pada saat – saat mengasingkan diri itu Beliau hanya membawa sedikit bekal makanan. Beliau melewati malam – malamnya seorang diri tak ada seorangpun yang menemaninya, hanya pikiran – pikiranya serta kesibukanya dalam melakukan ibadah. Di gua Hira’ inilah Rasulullah menerima wahyu pertama kali, saat itu beliau pulang dalam keadaan gemetar, dan Khadijah menyambut hangat kedatangan Rasulullah dengan memeluk serta menenangkannya lalu Khadijah berkata “ Demi Allah, dia tidak akan menghinakan dirimu, sungguh engkau adalah seseorang yang senang menjalin hubungan silaturahmi, jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menanggung beban orang yang kesusahan dan memuliakan tamu serta menopang segala kebenaran.”
Khadijahpun bergegas menemui saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal, Waraqah adalah seorang yang menganut agama Nashrani serta mempelajari kitab – kitab agama dan telah belajar kapada mereka yang memahami kitab Taurat dan Injil. Khadijah menceritakan peristiwa yang di alami Muhammad kepada Waraqah dengan perasaan cemas. Dan Waraqah memberitahukan kepada Khadijah bahwa peristiwa yang datang kepada Muhammad adalah An- Namus Al-Akhbar sama seperti yang pernah datang kepada Nabi Musa Alaihissalam, kemudian Waraqah memberitahukan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Muhammad akan menjadi Nabi bagi umat ini. Dan hendaklah Muhammad bersikap tenang dan tak perlu bimbang. Maka Khadijah kembali menemui Rasulullah dan menggambarkan kepadanya apa yang si katakan oleh Waraqah. Sayyidah Khadijah adalah wanita yang pertama kali beriman kepada Beliau. Di saat Khadijah membenarkan kenabian beliau, disertai dukunagan yang mantap serta peran aktifnya dalam memberikan bantuan baik dalam bentuk moril maupun materil, dalam keadaan senang maupun susah, hingga Allah akhirnya memanggilnya untuk menghadap kepad-Nya dalam usia 64 atau 65 tahun, Rasulullah merasakan kepedihan yang mendalam atas kepergian Khadijah.

2.            Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdul Syams
Beliau adalah istri dari As-Sukran bin Amr bin Abdu Syams yang juga merupakan saudara sepupunya. Mereka tergolong Suami istri yang terdahulu masuk Islam. Keislaman itu menyebabkan ia di kucilkan oleh saudara – saudara sepupunya serta kaum kerabatnya. Kemudian mereka turut serta dalam hijrah ke Habasyah ( Ethopia ) pada kali yang kedua, dalam rangka menghindarkan diri dari ganguan kaum Musyrikin, pada saat Saudah kembali ke Makkah, sang suami meninggal dunia.
Saudah adalah seseorang wanita tua, gembrot dan lamban bergerak, dia tidak dapat menemukan seseorang laki-lakipun yang mau menjadai suaminya serta menerima keadaanya. Dan beliau juga termasuk wanita yang tau diri, olehkarena itu ia tidak bersedia untuk menikah dengan laki- laki yang tidak setaraf dengan kondisinya serta tidak setingkatnya.
Saudah Radhiyallahu Anha tidak mampu pula untuk kembai ke kalangan keluarganya yang tidak setuju dengan tindakannya yang nasuk agama islam, karena ia merasa khawatir akan di ganggu dan di sakiti oleh mereka dan akhirnya Rasulullah menikahinya.
Pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdul Syams berlangsung dua tahun sebelum Rasulullah hijrah ke kota Madinah. Akan tetapi beliau tidak langsung berkumpul bersamanya melainkan setelah bereda di kota Madinah, atau tepatnya setelah tiga tahun dari wafatnya Khadijah.
Pernikahan ini bertujuan untuk melindungi Sayyidah Saudah dari gangguan dan penyiksaan kaumnya yang terkenal kasar dan bengis. Di samping itu merupakan penghormatan atas sikapnya yang terdepan dalam memeluk agama islam, perbuatannya yang rela berpisah dengan keluarganya dan tanah tumpah darahnya demi untuk menyelamatkan agama yang di anutnya. Demikian pula sebagai penghargaan atas kesabarannya dalam berkomitmen dengan aqidah yang diyakininya.
Pernikahan ini pula merupakan upaya meringankan beban kerinduannya terhadap suaminya yang kini telah tiada. Dan juga merupakan salah satu siasat halus untuk melunakkan hati kaumnya serta membujuk mereka agar mau menerima agama Islam. Sebab dengan pernikahan tersebut, mereka secara langsung telah menjadi kerabat Rasulullah melalui jalur pernikahan.
Jika demikian keadaannya, sungguh pernikahan ini memiliki tujuan yang mulia sebagai suatu penghargaan dan penghormatan terhadap seseorang wanita dan kemaslahatan bagi Islam, sama sekali bukan untuk memuaskan nafsu serta memperbanyak istri semata. Demikian Rasulullah tetap menjadikan istrinya hingga Beliau meninggal dunia.
3.            Aisyah binti Abu Bakar
Aisyah adalah putri pertama  Abu bakar salah seorang sahabat Rasulullah, putri kekasih Rasulullah yang selalu di beri perlakuan khusus serta menjadi orang yang terdekatnya. Teman di saat hijrah dari Makkah ke Madinah, kawan dalam berjihad serta sahabat yang senantiasa mendermakan jiwa raga dan hartanya demi membela agama Islam serta memberi dan melindungi Rasullullah.
Sayyidah Aisyah adalah seorang gadis yang sanat cerdas serta memiliki daya ingat yang sangat kuat. Beliau terkenal sebagai perawi hadist serta mengerti tentang hukum-hukum Islam. Oleh sebab itu para sahabat senior apabila menemukan suatu kesulitan dalam suatu permasalahan agama, mereka meminta fatwa kepada Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha.
Keunggulan Aisyah tidak hanya terbatas dalam hal periwayatan hadist dan fikih, bahkan beliau juga tergolong seseorang yang sangat lincah dan fasih berbicara, dapat menyesuaikan pembicaraan dengan situasi dan kondisi yang di hadapi. Beliau banyak menghafal sya’ir – sya’ir hingga diriwayatkan bahwasanya Hisyam bin Urwah yang juga meriwayatkan sya’ir  menyatakan bahwa bapaknya berkata kepada Hisyam, “ Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai dalam masalah fikih, kedokteran, dan sya’ir dari Aisyah.”
 Rasulullah menikahi putri Abu Bakar yaitu Aisyah pada saat kondisi beliau sangat membutuhakan seseorang pendamping sepeninggal istrinya yang pertama Khadijah, sebab istri ke dua Rasulullah yaitu Saudah lebih mirip sebagai istri simbolis dari pada istri dalam arti yang sebenarnya. Karena pernikahan dengan Saudah hanyalah untuk memuliakannya dan melunakkan hati kaumnya serta membujuk mereka untuk menerima dakhwah islam.
Aisyah memiliki kemampuan untuk memahami hal – hal yang tidak dapat dipahami oleh kebanyakan wanita, berupa syari’at dalam keadaan – keadaan tertentu. Oleh sebab itu, maka para periwayat hadist  sangat banyak menukil dari beliau hadist – hadist Rasulullah, lalu mereka menyebutkan riwayat – riwayat tersebut di dalam kitab – kitab mereka. Para ahli fiqih dalam menetapkan suatu hukum pada berbagai permasalahan perpatokan dengan riwayat yang di ambil dari beliau.
Pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah merupakan respon bagi persahabatn, pemenuhan kebutuhan rumah yang agung, dalam pernikahan itu sendiri terdapat kebaikan yang sangat banyak abgi Islam dan kaum muslimin baik laki – laki maupun perempuan.
4.            Hafshah
Hafshah adalah Putri dari Umar bin Khathab yang telah di tinggal suaminya yakni Khunais bin Hudzafah As-Sahmi saat perang badar, Khunais terluka parah dan akhirnya meninggal dunia.  Umar bin Khathab menawarkan putrinya kepada Abu Bakar As-Shiddiq, namun Abu Bakar tak memberi jawaban untuk bersedia menikahi putri Umar bin Khatab yaitu Hafshah, kemudian Hafshah di tawarkan kepada Ustman bin Affan, yang kebetulan istrinya pada saat itu telah meninggal dunia. Akan tetapi Ustman menolak dengan berkata “ Aku belum berfikir untuk menikah lagi pada saat – saat sekarang.” Sebab Ustman bermaksud untuk menikah dengan Ummu Kultsum putri Rasulullah.
Penolakan kedua sahabat begitu menyakitkan bagi Umar bin Khatab, kemudian Umar bin Khatab mengadukan kedua sahabatnya yang menolak tawaran tersebut. Rasulullahpun berkata “Hafsyah akan di nikahi orang yang lebih baik dari pada Ustman, dan Ustman akan menikahi pula wanita yang lebih baik dari pada Hafsyah”
Tak lama kemudian Rasulullah melamar Hafshah keoada Umar bin Khatab, dan berlangsunglah pernikahan itu pada tahun ketiga dari hijrahnya Nabi ke kota Madinah. Demikian pula Ustman bin Affan menikah dengan Ummu Kaltsum salah satu putri Rasulullah.
Pernikahan ini bernuansa persahabatan, merupakan tuntutan keadaan, serta upaya yang sungguh – sungguh untuk menjaga kemurnian hubungan persahabatan antara orang – orang terdekat beliau. Pernikahan ini bertujuan untuk memuliakan Umar bin Khathab dan Hafshah sendiri, serta untuk menggantikan kedudukan suaminya yang telah gugur di medan perang badar.
5.            Ummu Salamah
Ummu salamah Hindun binti Abu Umayyah Hudzaifah bin Al-Makzumy. Rasulullah menikahinya pada tahun kedua setelah perang Badar. Adapaun suaminya sebelum Muhammad adalah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad bin Makhzum yang di kenal sebagai perajurit yang gagah perkasa dan pemberani serta turut andil dalam perang Badar, kemudian beliau kembali terjun ke dalam medan Uhud, dimana ia terluka parah dan akhirnya membawanya kepada kematian. Di sisi lain antara Rasulullah dan Abu Salamah terdapat kekerabatan yang sangat erat, sebab Abu Salamah adalah putera dari pada Barrah binti Abdul Muthalib, yakni bibi Rasulullah, di samping itu, Abu Salamah adalah saudara sesusuan beliau.
Pada saat suaminya meninggal Ummu salamah usianya mulai tua, beliau juga memiliki anak yang banyak, Ummu Salamah pernah menolak Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab dengan alasan Usianya yang sudah tua dan mempunya anak yang begitu banyak di tambah lagi sifat kecemburuanya yang sangat tinggi.
Maka Rasulullah menikahinya dengan tujuan memberikan perlindungan dan pemeliharaan langsung terhadap Ummu Salamah, hal itu sebagai balasan terhadap jasa dan pengorbanan yang telah disumbangkannya beserta suaminya untuk agama Islam. Beliau juga bersedia menanggung beban pemeliharaan terhadap anak – anaknya, karena beliau menyaksikan sendiri betapa kesedihan yang di alaminya karena kematian sang suami.
6.            Zainab bin Khuzaimah
Zainab bin Khuzaimah berasal dari bani Amir bin Sha’sha’ah dia di gelari Ummul Masaakiin pada masa Jahiliyah. Istri dari Thufail bin Harits bin Muthalib, dan dalam versi lain beliau istri salah seorang pahlawan yang gugur dalam perang Uhud yang bernama Abdullah bin Jahsy.
Zainab seorang wanita yang tidak berparas cantik serta menarik, dan umurnyapun telah melewati usia seorang pemudi, pernikahannya dengan Muhammad berlangsung pada tahun ketiga hijriah, kehidupan rumah tangga beliau dengan Nabi Muhammad tidak berlangsung lama sebab hanya dua atau tiga bulan setelah pernikahannya Zainab meninggal dunia mendahului Rasulullah.
Pernikahan Rasulullah kepada Zainab hanya semata-mata memberikan kemaslahatan dan ketentraman baginya serta karena dorongan rasa sayang terhadap anak – anaknya. Dan juga sebagai balasan atas meninggalnya suami Zainab di medan perang Jihad.

7.      Juwariyah Binti Al Harits bin Abu Dhirar Al Khuza’iyah
Putri dari Al Harist bin Abu Dhirar seorang pemimpin bani Mushthaliq. Al Harist pernah mengumpulkan pasukan yang sangat besar untuk memerangi Rasulullah. Ketika kedua pasukan bertemu di medan perang Al Mariisii’ atau pada peperangan bani Mushtaliq tahun kelima hijriah, maka Rasulullah memulai dengan menawarkan Islam kepada mereka, namun mereka menolak tawaran tersebut, dan pada akhirnya peperangan dengan Rasulullah tidak terhindarkan, peperangan tersebut di menangkan oleh pihak Rasulullah.
Saat itulah Juwariyah binti Al Harist tertawan bersama tawanan perang selesai, maka Juwariyah menjadi bagian dari Tsabit bin Qais, Tsabitpun membuat perjanjian kepada  Juwariyah untuk memerdekakannya dengan syarat ia harus melunasi harga dirinya sendiri. Juwariyah mendatangi Rasulullah dan berkata “ Aku adalah putri dari Al Harist bin Abu Dhirar pemimpin di tengah kaumku, aku menjadi budak dari Tsabit bin Qais dan aku membuat perjanjian kepada dirinya untuk membayar harga bagi diriku agar beliau memerdekakanku, oleh sebab itu aku datang untuk meminta bantuan kepada engkau Muhammad.”
Rasulullah berkata “ Maukah engkau menerima sesuatu yang lebih dari pada apa yang anda harapkan..? Juwariyahpun berkata” Apakah itu wahai Rasulullah” Rasulullah berkata aku melunasi harga bagi dirimu, setelah itu aku akan menikahimu” Juwariyahpun berkata “ Aku setuju” dan Rasulullahpun bersabda “Aku telah melakukan hal tersebut.”berita kejadian tersebut dengan segera menyebar di kalangan kaum muslimin, dan mereka kini mengetahui bahwa Rasulullah telah menikah dengan Juwariyah.
Kaum muslimin berkata pada sebagiannya bahwa “Sekarang mereka (bani Mushthaliq) telah menjadi kerabat Rasulullah, oleh karena itu tidaklah pantas jika mereka di bawah kekuasaan kita sebagai budak – budak tawanan.” Akhirnya kaum Muslimin memerdekakan budak - budak tawanan mereka yang berasal dari Bani Mshthaliq. Pada mulanya beliau bernama Barrah, namun di ubah nama tersebut menjadi Juwariya oleh Rasulullah. Hanya beberapa waktu kemudian bani Mushthaliq bersedia menerima dan memeluk Agama islam. Pernikahan dengan Juwariyah membawa kebaikan bagi Islam serta menambah kekuatan kaum muslimin dan memperbanyak personil pasukan pembela dakhwah. Atas dasar inilah sehingga Sayyidah Aisyah pernah berkata bahwa “Kami tidak pernah mengetahui seorang wanita yang paling banyak memberi berkah terhadap kaumnya dari pada Juwariiyah binti Al-Harist.
8.            Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb.
Ramlah (Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin harb) beliau masuk islam meskipun di tentang oleh bapaknya Abu Sufyan musuh Rasulullah yang paling keras serta terkuat di antara musuh – musuh yang lain, kemudian hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama suaminya ( Ubaidillah bin Jashy ). Akan tetapi sesampainya di negri hijrah sang suami murtad dan memeluk agama Nashrani. Iapun menginginkan istrinya mengikuti ajaran yang di anutnya, namun Ummu Habibah menolak tawaran tersebut sehingga beliau di tinggalkan oleh suaminya, tidak lama kemudian suaminya meninggal dunia.
Tak ada tanda jasa terbaik yang dapat di anugrahkan oleh Rasulullah untuk menghargai perjuangannya serta menjaga kehormatannya selain menikahinya, dimana saat itu beliau masih berada di Habasyah yakni sekitar tahun ke enam atau ketujuh hijriyah. Hal itu adalah untuk menyelamatkannya dari kesulitan dalam keterasingan, kesendirian serta kemiskinan. Semoga dengan perkawinan itupula dapat membujuk bapaknya yang salah seorang tokoh syirik serta musuh islam yang paling keras. Ummu habibah akhirnya kembali dari tempat hijrahnya bersama Khalid bin Sa’id pada tahun dicapainya perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dan Musyrikin Makkah, pada tahun itupula merupakan tahun penahlukan Khaibar.


9.            Zainab Binti Jahsy Bin Ri’ab
Zainab Binti Jahsy Bin Ri’ab adalah Istri dari anak angkat Rasulullah yaitu Zaid bin Harist seseorang yang pernah menjadi tawanan pada masa Jahiliyah dan kemudian ia di beli oleh Khadijah untuk di angkat menjadi putranya ketika masih berada di Makkah, karena status sosial Zainab yang masih tergolong bangsawan Quraisy dia tidak mampu menanggalkan gengsinya, sikapnya yang merasa lebih tingi dari Zaid bin Harist yang kini telah menjadi suaminya sendiri. Tak jarang pula ia menunjukkan keangkuhannya dan memperlakukan suaminya secara tidak pantas, serta selalu memperdengarkan kepada Zaid perkataan – perkatan yang menyakitkan hati. Dan hingga dalam suatu riwayat bahwa Zainab tidak memperbolehkan bagi Zaid untuk menyentuh tubuhnya layaknya seorang suami menyentuh tubuh istrinya.
Zaid mengadu kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah sesungguhnya Zainab telah berlebihan menyakiti hatiku dengan perkataannya, maka aku bermaksud untuk menceraikannya.” Maka Rasulullah bersabda kepadanya.” Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah dalam menghadapi persolannya dan jangan engkau menceraikannya.” Rasulullah telah mengetahui perantaraan wahyu bahwa Zaid akan menceraikan Zainab, setelah itu Rasulullah akan menikahi mantan istri anak angkatnya itu, sebab pernikahan ini bertujuan menetapkan syari’at Ilahi yang bijaksana, dan demi untuk menghapus serta merobak kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat bangsa Arab, yakni pengharaman bagi seseorang untuk menikahi wanita mantan istri anak angkatnya sendiri, yang mana sama kharamnya dengan menikahi mantan istri anak kandung.
Pernikahan Nabi dengan Zainab berlangsung pada tahun kelima hijriyah. Ini adalah keteladanan yang di praktekkan secara langsung, untuk menghalalkan apa yang telah mereka haramkan atas diri – diri mereka, yang pada hakekatnya persoalan tersebut tidaklah haram.
10.        Shafiyah Binti Huyay bin Akhthab, Pemimpin Bani Nadhir.
Shafiyah Binti Huyay bin Akhthab seorang wanita berkebangsaan Yahudi, sebelumnya pernah bersuamikan dua orang pria Yahudi, suami yang pertama adalah Salam bin Misykam, sedangkan suaminya yang kedua adalah Kinnah bin Ar-Rabi’ bin Abu Al Haqiq. Beliau adalah tawanan perang Khaibar pada tahun ketujuh hijriyah, lalu Dihyah Al Kalbi meminta kepada Rasulullah agar memberikan kepadanya seorang budak wanita di antara wanita-wanita yang tertawan. Maka Rasulullah bersabda kepada Dihyah agar memilih salah satu di antara yang engkau sukai. Dihyah Al Kalbi memilih Shafiyah seorang putri pemimpin Bani Quraizah dan Bani Nadhir, Parasahabat pun datang kepada Rasulullah dan berkata” Wahai Rasulullah dia adalah seorang putri dari pemimpin Bani Quraizah dan Bani Nadhir maka tidak ada yang pantas memilikinya selain Anda.”
Nabi Muhammad bersabda kepada Dihyah “ Ambilah wanita yang lain di antara wanita – wanita tawanan itu.” Dan Rasulullahpun memberikan pilihan kepada Shafiyah antara di pulangkan di antara kaumnya ataukah Ia di merdekakan kemudian dinikahi. Ternyata Syafiyah lebih memilih untuk dinikahi oleh Rasulullah. Sebelumnya Syafiyah pernah bermimpi melihat bulan jatuh di kakiknya, dan mimpi itupun di ceritakan kepada Suaminya (Kinnah), maka suaminya berkata “ Tidak ada makna lain dari pada mimpi ini kecuali bahwasanya engkau mengharap untuk menjadi istri bagi penguasa Hijaz yakni Muhammad,” kemudian Kinnah menampar muka Shafiyah hingga kedua matanya Nampak memar kebiru – biruan.
Pada suatu hari Rasulullah masuk ke kamar Syafiyah yang sedang menangis, dan Rasulullah bertanya kepadanya “Apa yang menyebabkan engkau menangis.?” Syafiyah menjawab “Telah sampai berita kepadaku, bahwasanya Aisyah dan Hafshah telah merendahkanku, keduanya mengatakan bahwa, Kita ini lebih baik dari pada Syafiah, karena sesungguhnya kita adalah putri dari paman Rasulullah, sekaligus Istri beliau.” Nabi berkata kepada Syafiyah Mengapa engkau tidak mengatakan kepada keduanya “Bagaimana mungkin kalian berdua lebih baik daripada aku, sedangkan bapakku adalah Nabi Harun, pamanku adalah Nabi Musa, dan suamiku adalah Muhamad.”Safiyah adalah seorang yang memiliki hikmah, kecerdasan serta kedermawaan.
11.        Maimunnah Binti Al Harist Bin Hazn Al Hilaliyah.
Wanita yang satu ini memiliki hubungan kekerabatan dengan mayoritas pemuka – pemuka bangsa Arab. Beliau memiliki saudara – saudara perempuan kandung mereka adalah Ummu Fadhl Lubabah Al Kubra, beliau adalah istri Al Abbas bin Abdul Muthalib  (Paman Nabi). Lubabah As-Shugra,beliau adalah istri Al Walid bin Mughirah, dan juga merupakan ibu kandung Khalib bin Walid, dan Asma’ beliau adalah Istri Ubay bin Khalaf Al Jumahiy, serta Azzah, istri Ziyadah bin Abdullah Al Jumahiy.
Beliau memiliki pula saudara – saudara perempuan dari pihak ibu, mereka adalah Asma binti Umais, beliau adalah istri Ja’far bin Abu Thalib. Shalma binti Umais, beliau adalah istri dari Hmzah bin Abdullah Muthalib. Dan Salamah binti Umais, beliau adalah istri Abdul Malik bin Ka’ bin Munabbih Al Khats’amiy.
            Suami yang kedua Maimunah meninggal dunia, lalu Abas bin Abdul Muthalib menemui Rasulullah seraya berkata. “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya Maimunah binti Al Harist Bin Hazu telah menjadi janda, maka apakah anda bekenan untuk menikahinya..? Rasulullahpun menerima tawaran itu.
            Bukan merupakan kebiasaan bagi Nabi Muhammad sebagai figure yang memiliki jiwa mulia lagi dermawan untuk menolak keinginan dua orang kesayangannya, yaitu pamannya Abbas bin Abdul Muthalib dengan saudara sepupunya  Ja’far bin Abu Thalib. Juga bukanlah tipe Nabi Muhammad untuk mengecewakan seorang wanita yang telah menghibahkan dirinya untuk Nabi Muhammad.
            Pernikahan itu bukanlah untuk memupus harapan bagi kekuatan islam dan kaum muslimin, maka Nabi mengawininya, yang pada saat itu bernama Barrah, lalu oleh Nabi diubah menjadi Maimunah.
12.        Mariyah Al Qibthiyah
Suatu ketika Nabi mengutus Hathib bin Abu Balta’ah dengan sebuah surat yang ditujukan kepada Al Muqauqis, seorang pengusaha di negeri Iskandaria Mesir. Pengutusan itu sendiri bertepatan dengan tahun keenam hijriyah. Adapun maksud pengutusan dan surat tersebut adalah untuk mengajak penguasa itu agar mau menerima agama Islam.
Al Muqauqis menyambut Hathib dengan sangat baik. Kemudian Al Muqauqis mengirimkan untuk Nabi berbagai macam hadiah, di antaranya adalah Mariyah Al Qibthiyah, bersama saudara perempuannya yang bernama Sirin Wakhashi yang biasa di panggil dengan nama Al Ma’bur dan dalam riwayat di sebutkan bersama hadiah tersebut di sertakan empat orang wanita.
Sirin di berikan kepada Hasan bin Tsabit, lalu Sirin melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Apakah termasuk sikap yang terpuji jika hadiah tersebut di kembalikan kepada Muqauqis, andai kata beliau melakukan hal tersebut tentu beliau akan menyakiti hati Muqauqis serta Mariyah, sebab penolakan hadiah itu menunjukkan sikap arogan (Angkuh).
Sehingga tidak ada yang lebih baik bagi Nabi Muhammad kecuali menikah dengan Mariyah, demi menyenangkan hati Muqauqis dan Mariyah sendiri.
Pernikahan ini juga merupakan praktik nyata terhadap hokum yang membolehkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita ahli kitab (Wanita yang menganut agama Nasrani atau Yahudi ). Dan dalam semua ini terdapat manfaat bagi Islam dan kaum muslimin.
Di antara istri – istri Nabi Muhammad yang sudah di Uraikan di atas terdapat empat orang Istri Nabi Muhammad yang memiliki peran penting dalam dakwah islam di antaranya adalah :
1.      Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid.
            Sayyidah Khadijah adalah wanita yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad dan wanita yang pertama kali beriman kepada Nabi Muhammad. Dan setiap kali Muhammad mendapatkan perlakuan yang tidak pantas oleh kaum musyrikin, maka Khadijah senantiasa meringankan beban tersebut serta menguatkan dan menjadikan persoalan itu terasa ringan di hadapan Rasulullah.
            Kita sudah membahas sebelumnya bahwa Sayyidah khadijah adalah seorang wanita yang memiliki garis keturunan yang terhormat serta kekayaan yang melimpah. Beliau sebelumnya pernah menikah dua kali dengan dua orang laki – laki dari bani Makhzum, kemudian ia di pinang oleh sebagian besar para pembesar Quraisy, namun semua lamaran itu di tolaknya, karena ia berkeyakinan bahwa para pembesar Quraisy yang melamarnya itu hanya mengiginkan harta kekayaannya saja.
            Khadijah mengagumi sosok Muhammad yang jujur dan kebaikannya, kemudian khadijah mengutus saudara perempuannya atau seorang teman dekatnta untuk menemui Muhammad, mereka berkata kepada Muhammad “Apakah yang menjadi kendala anda untuk menikah hai Muhammad..?” Beliaupun menjawab “ Aku tidak memiliki harta serta kecukupan untuk membiyayai suatu pernikahan”. Utusan khadijahpun berkata “ Jika ada orang yang menanggung hal itu, lalu mengajak anda untuk menikahi seseorang yang berparas cantik dan menarik serta memiliki kekayaan di samping keturunan yang terhormat, maka apakah anda mau menerima tawarannya..? Muhammad berkata : Siapakah orang tersebut..? utusan khadijah tersebutpun menjawab “dia adalah Khadijah binti Khuwailid.”
            Saat itu pula Rasulullah menyatakan dengan tegas akan persetujuan yang ditawarkannya dengan tawaran tersebut, sementara dia mengetahui bahwa Khadijah dulu pernah menikah dua kali dan memiliki usia lebih tua lima belas tahun atau lebih. dan  sempurnalah pernikahan mereka dan seketika lenyaplah perbedaan usia, melebur dalam kebahagiaan, kejujuran, kehidupan rumah tangga yang rukun serta dengan kegembiraan akan kehadiran anak – anak. Khadijah Radhiyallahu Anha bersama Rasulullah telah di karuniai : Qasim, Abdullah ( Keduanya di beri gelar At-Thahir dan At-Thayib), Zainab, Ummu Kaltsum, Fathimah serta Ruqayyah.
Khadijah sangat perhatian kepada Rasulullah bahkan pada saat Rasulullah menerima wahyu yang pertama beliau memeluk serta menenangkan hati rasulullah berikut adalah ulasan bagaimana sangat perhatiannya Khadijjah.
Rasulullah biasanya mengasingkan diri, meninggalkan rumahnya pada malam- malam tertentu yang dilewatinya dengan merenung dan beribadah di gua Hira’. Beliau beribadah di gua Hira’ dalam bulan Ramadhan pada setiap tahunnya. Dimana pada saat – saat mengasingkan diri itu beliau hanya membawa sedikit bekal makanan. Beliau melewati malam – malamnya seorang diri tak ada seorangpun yang menemaninya, hanya pikiran – pikiranya serta kesibukanya dalam melakukan ibadah. Di gua Hira’ inilah Rasulullah menerima wahyu pertama kali, saat itu beliau pulang dalam keadaan gemetar, dan Khadijah menyambut hangat kedatangan Rasulullah dengan memeluk serta menenangkannya lalu Khadijah berkata “ Demi Allah, dia tidak akan menghinakan dirimu, sungguh engkau adalah seseorang yang senang menjalin hubungan silaturahmi, jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menanggung beban orang yang kesusahan dan memuliakan tamu serta menopang segala kebenaran.”
Khadijahpun bergegas menemui saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal, Waraqah adalah seorang yang menganut agama Nashrani serta mempelajari kitab – kitab agama dan telah belajar kapada mereka yang memahami kitab Taurat dan Injil. Khadijah menceritakan peristiwa yang di alami Muhammad kepada Waraqah dengan perasaan cemas. Dan Waraqah memberitahukan kepada Khadijah bahwa peristiwa yang datang kepada Muhammad adalah An- Namus Al-Akhbar sama seperti yang pernah datang kepada Nabi Musa Alaihissalam, kemudian Waraqah memberitahukan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Muhammad akan menjadi Nabi bagi umat ini. Dan hendaklah Muhammad bersikap tenang dan tak perlu bimbang. Maka Khadijah kembali menemui Rasulullah dan menggambarkan kepadanya apa yang dikatakan oleh Waraqah. Sayyidah Khadijah adalah wanita yang pertama kali beriman kepada beliau. Di saat Khadijah membenarkan kenabian beliau, disertai dukungan yang mantap serta peran aktifnya dalam memberikan bantuan baik dalam bentuk moril maupun materil, dalam keadaan senang maupun susah, hingga Allah akhirnya memanggilnya untuk menghadap kepad-Nya dalam usia 64 atau 65 tahun, Rasulullah merasakan kepedihan yang mendalam atas kepergian Khadijah.
2.      Aisyah binti Abu Bakar
Sayyidah Aisyah adalah seorang gadis yang sangat cerdas serta memiliki daya ingat yang sangat kuat. Beliau terkenal sebagai perawi hadist serta mengerti tentang hukum - hukum islam. Oleh sebab itu para sahabat senior apabila menemukan suatu kesulitan dalam suatu permasalahan agama, mereka meminta fatwa kepada Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha.
Aisyah adalah puteri pertama  Abu bakar salah seorang sahabat Rasulullah, puteri kekasih Rasulullah yang selalu diberi perlakuan khusus serta menjadi orang yang terdekatnya. Teman disaat hijrah dari Makkah ke Madinah, kawan dalam berjihad serta sahabat yang senantiasa mendermakan jiwa raga dan hartanya demi membela agama Islam serta memberi dan melindungi Rasullullah.
Keunggulan Aisyah tidak hanya terbatas dalam hal periwayatan hadist dan fikih, bahkan beliau juga tergolong seseorang yang sangat lincah dan fasih berbicara, dapat menyesuaikan pembicaraan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Beliau banyak menghafal sya’ir – sya’ir hingga diriwayatkan bahwasanya Hisyam bin Urwah yang juga meriwayatkan sya’ir  menyatakan bahwa bapaknya berkata kepada Hisyam, “ Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai dalam masalah fikih, kedokteran, dan sya’ir dari Aisyah.”
 Rasulullah menikahi putri Abu Bakar yaitu Aisyah pada saat kondisi beliau sangat membutuhakan seseorang pendamping sepeninggal istrinya yang pertama Khadijah, sebab istri ke dua Rasulullah yaitu Saudah lebih mirip sebagai istri simbolis dari pada isteri dalam arti yang sebenarnya. Karena pernikahan dengan Saudah hanyalah untuk memuliakannya dan melunakkan hati kaumnya serta membujuk mereka untuk menerima dakhwah islam.
Aisyah memiliki kemampuan untuk memahami hal – hal yang tidak dapat dipahami oleh kebanyakan wanita, berupa syari’at dalam keadaan – keadaan tertentu. Oleh sebab itu, maka para periwayat hadist  sangat banyak menukil dari beliau hadist – hadist Rasulullah, lalu mereka menyebutkan riwayat – riwayat tersebut di dalam kitab – kitab mereka. Para ahli fiqih dalam menetapkan suatu hokum pada berbagai permasalahan perpatokan dengan riwayat yang di ambil dari beliau.
Pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah merupakan respon bagi persahabatn, pemenuhan kebutuhan rumah yang agung, dalam pernikahan itu sendiri terdapat kebaikan yang sangat banyak abgi Islam dan kaum muslimin baik laki – laki maupun perempuan.
3.            Juwariyah Binti Al Harits bin Abu Dhirar Al Khuza’iyah
Juwariyah adalah Puteri dari Al Harist bin Abu Dhirar seorang pemimpin bani Mushthaliq. Al Harist pernah mengumpulkan pasukan yang sangat besar untuk memerangi Rasulullah. Ketika kedua pasukan bertemu di medan perang Al Mariisii’ atau pada peperangan bani Mushtaliq tahun kelima hijriah, maka Rasulullah memulai dengan menawarkan islam kepada mereka, namun mereka menolak tawaran tersebut, dan pada akhirnya peperangan dengan Rasulullah tidak terhindarkan, peperangan tersebut di menangkan oleh pihak Rasulullah.
Saat itulah Juwariyah binti Al Harist tertawan bersama tawanan perang, maka Juwariyah menjadi bagian dari Tsabit bin Qais, Tsabitpun membuat perjanjian kepada  Juwariyah untuk memerdekakannya dengan syarat ia harus melunasi harga dirinya sendiri. Juwariyah mendatangi Rasulullah dan berkata “ Aku adalah putri dari Al Harist bin Abu Dhirar pemimpin ditengah kaumku, aku menjadi budak dari Tsabit bin Qais dan aku membuat perjanjian kepada dirinya untuk membayar harga bagi diriku agar beliau memerdekakanku, oleh sebab itu aku datang untuk meminta bantuan kepada engkau Muhammad.”
Rasulullah berkata “ Maukah engkau menerima sesuatu yang lebih dari pada apa yang anda harapkan..? Juwariyahpun berkata” Apakah itu wahai Rasulullah” Rasulullah berkata aku melunasi harga bagi dirimu, setelah itu aku akan menikahimu” juwariyahpun berkata “ Aku setuju” dan Rasulullahpun bersabda “Aku telah melakukan hal tersebut.”
Berita kejadian tersebut dengan segera menyebar dikalangan kaum muslimin, dan mereka kini mengetahui bahwa Rasulullah telah menikah dengan Juwariyah. Kaum muslimin berkata pada sebagiannya bahwa “Sekarang mereka (bani Mushthaliq) telah menjadi kerabat Rasulullah, oleh karena itu tidaklah pantas jika mereka dibawah kekuasaan kita sebagai budak – budak tawanan.” Akhirnya kaum Muslimin memerdekakan budak-budak tawanan mereka yang berasal dari Bani Mushthaliq. Pada mulanya beliau bernama Barrah, namun diubah nama tersebut menjadi Juwariyah oleh Rasulullah. Hanya beberapa waktu kemudian bani Mushthaliq bersedia menerima dan memeluk agama Islam. Pernikahan dengan Juwariyah membawa kebaikan bagi Islam serta menambah kekuatan kaum muslimin dan memperbanyak personil pasukan pembela dakhwah. Atas dasar inilah sehingga Sayyidah Aisyah pernah berkata bahwa “Kami tidak pernah mengetahui seorang wanita yang paling banyak memberi berkah terhadap kaumnya dari pada Juwariiyah binti Al-Harist.
4.      Zainab Binti Jahsy Bin Ri’ab
Zainab Binti Jahsy Bin Ri’ab adalah Isteri dari anak angkat Rasulullah yaitu Zaid bin Harist seseorang yang pernah menjadi tawanan pada masa Jahiliyah dan kemudian ia dibeli oleh Khadijah untuk diangkat menjadi putranya ketika masih berada di Makkah, karena status sosial Zainab yang masih tergolong bangsawan Quraisy dia tidak mampu menanggalkan gengsinya, sikapnya yang merasa lebih tingi dari Zaid bin Harist yang kini telah menjadi suaminya sendiri. Tak jarang pula ia menunjukkan keangkuhannya dan memperlakukan suaminya secara tidak pantas, serta selalu memperdengarkan kepada Zaid perkataan – perkatan yang menyakitkan hati. Dan hingga dalam suatu riwayat bahwa Zainab tidak memperbolehkan bagi Zaid untuk menyentuh tubuhnya layaknya seorang suami menyentuh tubuh istrinya. Zaidpun mengadu kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah sesungguhnya Zainab telah berlebihan menyakiti hatiku dengan perkataannya, maka aku bermaksud untuk menceraikannya.” Maka Rasulullah bersabda kepadanya.” Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah dalam menghadapi persolannya dan jangan engkau menceraikannya.” Rasulullah telah mengetahui perantaraan wahyu bahwa Zaid akan menceraikan Zainab, setelah itu Rasulullah akan menikahi mantan isteri anak angkatnya itu, sebab pernikahan ini bertujuan menetapkan syari’at Ilahi yang bijaksana, dan demi untuk menghapus serta merombak kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat bangsa Arab, yakni pengharaman bagi seseorang untuk menikahi wanita mantan isteri anak angkatnya sendiri, yang mana sama haramnya dengan menikahi mantan isteri anak kandung.
Pernikahan Nabi dengan Zainab berlangsung pada tahun kelima hijriyah. Ini adalah keteladanan yang dipraktekkan secara langsung, untuk menghalalkan apa yang telah mereka haramkan atas diri – diri mereka, yang pada hakekatnya persoalan tersebut tidaklah haram.